Andai Khilaf Bisa Ngomong


Sepulang menjalankan tugas mulia menambal ban dan membatu para pengendara menahan angin didalam ban, sekilas saya perhatikan acara di TV yang saat itu ditoton istri saya.

Timbul rasa penasaran dan rasa ingin tahu alias kepo di hati saya, sehingga akhirnya saya pun ikut-ikutan menonton acara Rumah Kuya di TV, sengaja tidak saya sebutkan nama stasiun TVnya, nanti dikira ngiklan.

Lha mbok biar, wong ingin.

Jadi secara singkat ceritanya begini, ada 2 orang cowok namanya Fatir dan Raka, ditambah seoarang cewek namanya evelin.

Ke 2 cowok tadi, yang gantengnya laksana Arjuna, tapi masih belum seberapa jika dibandingkan dengan kegantengan Tukul Arwana. Ternyata sahabatan guys, dan keduanya sama-sama naksir sama Si cewek yang namanya apelin.

Mungkin mintanya diapelin terus kali ya.

Nah karena sahabatan si Fatir ini mungkin sering curhat kalo lagi naksir ama si Evelin, dan minta tolong sama Si Raka jadi makcoblang, perantara atau bahasa sononya makelar.

Tapi busuknya disini ternyata si Raka naksir juga sama si Evelin, dan barang-barang yang diberikan Fatir lewat raka diaku kalo barang-barang tadi dari Raka bukan dari Fatir.

Apa ndak bedebah ...?

Bukan cuma hobi menusuk dari belakang, tapi si Raka ini ternyata gemar juga nyari gratisan, alias gak mau keluar modal.

Singkat cerita Si Raka menyatakan cintanya sama si evelin, begitu juga dengan evelin dengan sedikit lebay bin alay mau menerima cinta raka, dan akhirnya mereka jadian.

Sampai disini ternyata bukanlah ending dari acara tadi, tapi justru kisah drama yang memang dengan sengaja direkayasa dan disetting sedemikian rupa, baru saja akan dimulai.

Setelah bla, bla, bla, memang sengaja saya skip ceritanya, biar ndak terlalu panjang, takut yang baca jadi ngantuk seperti Juwono, akhirnya ketahuan juga belangnya Si Raka.

Mungkin karena sudah terdesak akhirnya Raka mengeluarkan jurus andalannya yaitu Maaf saya Khilaf.

Dan akhirnya saya pun tidak bisa melanjutkan ceritanya karena saya sendiri tidak melanjutkan menonton bagaimana kelanjutannya, hehehe.

Inti dari cerita diatas, sebenarnya saya ingin mengatakan kok tega-teganya khilaf yang dijadikan kambing hitam untuk menutupi kesalahan yang diperbuat oleh Raka.

Saya jadi berfikir, mungkin memang jalan ceritanya sudah direkayasa biar seperti itu, dan saya pun bertanya-tanya apakah seburuk itukah pamor khilaf.

Karena hampir disemua sinetron atau acara-acara seperti diatas, khilaf selalu menjadi senjata pamungkas untuk menebus kesalahan para pemerannya diakhir cerita, sehingga khilaf menjadi kata-kata fenomenal yang melegenda.

Saya ambilkan contoh dari kehidupan dunia sinetron, misalnya Si Amat yang memerankan peran antagonis, doi mendapat tugas dan mandat dari sutradara untuk menindas dan berbuat semena-mena sama Si Kampret yang memerankan peran protagonis. 

Diakhir cerita, mana kala Amat sudah tobat meskipun sekedar tobat-tobatan dan berpura-pura menyadari kesalahannya, untuk mempermanis jalanya cerita, tak lupa Si Amat akan mengatakan maaf selama ini saya khilaf.

Kemudian mereka saling berpelukan dan saling memaafkan, maka kisah cerita dalam sinetron tadi berakhir dengan hepi ending.

Andai saja kejadian tersebut terjadi dalam dunia nyata mungkin Si Kampret akan berkata, khilaf dengkulmu mlocot, khilaf kok saben dino, opo ora bosen.

Apa ndak terlalu bedebah, kalo selama bertahun-tahun menindas dan semena-mena, maka semua kesalahan-kesalahan tersebut bisa dihapuskan dengan ucapan maaf saya khilaf.

Ternyata khilaf menjadi senjata pamungkas hanya dalam cerita sinetron saja, sebab dalam kehidupan nyata, kadang saat kita meminta maaf kepada seseorang.

Biar kata kita mengatakan maaf saya khilaf sampai ndower, belum tentu mereka langsung mau memaafkan kesalahan kita, bahkan kadang-kadang harus melalui proses negosiasi yang alot dan sering diwarnai adu mulut, sampai adu jotos.

Andai khilaf bisa ngomong, mungkin mereka akan protes dan melakukan demo besar-besaran, menutut para sutradara dan penulis naskah, agar tidak selalu dijadikan sebagai kambing hitam atas kesalahan-kesalahan yang diperbuat oleh para tokoh antagonis.




12 komentar:

  1. wah si raka gak amanah nih :D

    BalasHapus
  2. bener juga ya khilaf jadi andalan jurus terakhir. kenapa juga si khilaf ini jadi disalahkan terus ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin memang sudah kodratnya seperti itu

      Hapus
  3. Khilaf emang selalu jadi alasan seseorang, tapi juga belum tentu bisa menyelesaikan masalahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Biasanya manjur kalo di dalam sinetron

      Hapus
  4. Khilaf selalu jadi kambing hitam, coba sate kambing, namun ada hikmat dari sebuah khilaf, yaitu menjadi kan orang sadar akan kesalahanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mas asal jangan jadi langganan

      Hapus
  5. Berbuat khilaf bagus sekali, berbuat khilaf jangan sekali....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebab kalo hanya sekali nanti jadi rugi, hehehe

      Hapus
  6. Hehehhee mas ada ada aja ni.. oiya saya sampai teralihkan melihat foto bapak itu lucu banget mas hehehhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin sedang khilaf mbah jadi terlihat seperti itu

      Hapus

Andai Khilaf Bisa Ngomong